Jumat, 26 September 2014

Rapat Dinas di Hotel, Anggaran Renovasi dan Politik Kue Obama

Tantangan pemerintahan baru adalah melakukan efisiensi ditengah terbatasnya anggaran yang tersedia dalam RAPBN 2015, hal itu dapat dilakukan dari berbagai hal, mulai aspek remeh temeh hingga yang besar, karena efisiensi mengukur nilai total kumulatif atas penghematan yang dapat dilakukan.

Salah satu yang disorot adalah besarnya anggaran rapat sekitar Rp18T pada kementerian dan lembaga, hal ini jelas membuat kita tercengan, meski MenKeu menyatakan hal tersebut dikalkulasi atas perjalanan dinas dan paket meeting, tetap saja jumlah nan fantastis.

Kita ingat politik anggaran Obama pada medio 2011, yang tersentak dengan konsumsi rapat bermenu kue bolu seharga U$16 yang dianggap kemahalan, sehingga meminta seluruh kementerian dan lembaga di USA untuk memastikan agar setiap dollar pajak yang dibayarkan penduduk dipergunakan secara produktif bagi kepentingan langsung publik, dan bukan bermewah bagi penyelenggara kebijakan.

Problem serupa pun hadir secara domestik melalui besaran anggaran rapat dalam RAPBN 2015, ingat ini anggaran yang sifatnya annual, sehingga akan habis dalam kurun waktu 12 bulan saja, bila dikalikan dengan waktu periode pemerintahan yang selama 5 tahun berasumsi alokasi prorata, maka totalnya menjadi Rp90T, angka yang WoW.

Padahal, pemerintah hampir disetiap Departemen ataupun Lembaga memiliki pusat Diklat, dengan dilengkapi fasilitas rapat tentunya, lalu kenapa harus rapat diluar lokasi yang dimiliki oleh instansi?.

Paket meeting dihotel dan diluar kota menjadi favorit, mengabaikan lokasi rapat yang dimiliki pemerintah sendiri, dengan berbagai alasan seperti mencari suasana hingga kebutuhan inap karena durasi rapat nan panjang.

Padahal, problem teknis bisa dihadapi secara teknis, semisal pembagian waktu rapat menjadi beberapa hari dengan lokasi ruang rapat pada dinas instansi terkait, hemat biaya inap dan akomodasi lain tentunya.

Sedangkan soal suasana, toh yang dicari adalah pertemuan dalam pembahasan masalah pada sebuah rapat dinas, bukan untuk berniat berplesir dengan mencari suasana baru.

Gedung pemerintah, termasuk departemen dan lembaga sesungguhnya pun dialokasikan untuk direnovasi setiap tahun, berdasarkan pos alokasi 2013, terdapat anggaran Rp22,9T bagi kebutuhan revitalisasi gedung.

Kalau sudah direnovasi, kemudian dipergunakan maksimal, maka anggaran dapat ditekan, dan alokasi tersebut dapat dipergunakan untuk membiayai kepentingan pembangunan yang lebih krusial.

Dari negeri paman Sam kita belajar politik anggaran kue merupakan refleksi nasional akan sebuah sikap untuk tidak berlaku bermewah yang cenderung boros ketika masyarakat membutuhkan bukti nyata dari kinerja pemerintahan.

Sumber foto: www.tempo.co


Tidak ada komentar:

Posting Komentar