Siapa sangka karakter kucing nan
imut yang tanpa mulut dari negeri Sakura itu mampu bertahan selama 4
dasawarsa.
Sejak kelahirannya pada 1974 melalui
desain Shimizu Yuko di studio Sanrio, tokoh kartun ini melanglang buana
menembus pasar internasional.
Lekat dengan warna pink, Hello Kitty
memang menjadi favorit anak perempuan, meski tidak gencar dalam promosi, total
nilai bisnis si kucing lucu ini sekitar U$7miliar per tahun.
Bisnis merchandise dengan pernik
Hello Kitty merangsek keseluruh penjuru dengan operasi yang tanpa gemuruh
periklanan, maka eksploitasi karakter tersebut berlangsung efektif.
Kunci suksesnya adalah mendengar
para penggemar yang tergabung dalam fans club, dan menjelma dari t-shirt, kipas
angin hingga pembatas buku dan seabrek produk derivatifnya.
Kemampuan untuk beradaptasi secara
universal membuat Hello Kitty menjadikan karakter ini mampu bertahan diberbagai
jaman, termasuk menahan gempuran karakter baru yang datang dengan gemerlap
iklan.
Figur Karakter Lokal
Bagaimana karakter lokal mencercap
pengalaman Hello Kitty? Kita tentu harus mengapresiasi upaya rekonstruksi
Gundala Putra Petir, termasuk melirik beberapa tokoh imajinatif seperti si Buta
dan Panji Tengkorak.
Kreatifitas lokal sesungguhnya sudah
setara dengan negara dibelahan dunia lain, namun ekspose pencapaian kemampuan
lokal masih terbatas menjangkau audience secara meluas.
Terlebih, tokoh karakter nan kreatif
yang dimunculkan masih menggunakan citarasa lokal, padahal kunci go global
adalah dengan figur yang universal.
Tentu kita berharap aksesoris
nasional bisa dibawa ke ranah internasional, namun hal itu bisa dieksplorasi
secara bertahap.
Industri kreatif selalu digaungkan,
sayangnya dukungan dibidang tersebut sulit dilihat, padahal departemen dengan
nama senada sudah kasat mata, namun gregetnya belum terasa, minimal muncul pada
karakter ditingkat nasional sebelum ke level dunia.
Sumber foto: hkqueenviadorable.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar