Minggu, 21 September 2014

BI Rate tidak Diobral..!!! Jangan Bertumpu pada Investasi Asing

Bagaikan gadis jelita, potensi Indonesia sebagai negara berkembang sesungguhnya berada dalam kriteria yang baik, masalahnya kita belum mampu mengoptimalkan kecantikan tersebut untuk dikelola sendiri.

Problemnya kemudian muncul dalam terminologi jaringan ekonomi dunia, bahwa Indonesia membutuhkan dukungan capital dari pasar dunia, semua instrumen di pasar modal dan pasar uang dipergunakan untuk menarik likuiditas.

Pada keterhubungan global tersebut, Amerika Serikat masih menjadi acuan utama, karena itu langkah The Fed akan perubahan suku bunga akan memberi dampak bagi emerging market seperti Indonesia.

Manakala bunga The Fed yang saat ini 0.25% dikerek naik, maka likuiditas dunia akan sedikit mengering karena mengalir kembali ke negeri Paman Sam, dan hal tersebut berbahaya khususnya bagi Indonesia sendiri sebagai tujuan investasi selama ini.

Sebagian pengamat mengemukakan, sarana preventif dapat dilakukan dengan menaikkan suku bunga BI dari 7.5% p.a sehingga spread interest yang lebar dapat tetap menjaga ketertarikan investor.

Problemnya harus dilihat komprehensif, karena secara internal dampak bagi konsumen kredit dalam negeri adalah beban bunga yang semakin tinggi, dan hal tersebut bisa membuat ekonomi menjadi memanas.

Karena perbankan akan semakin bersaing memperebutkan dana, meningkatkan biaya dana, membuat pemilik likuiditas di dalam negeri tidak tertarik menggarap ekonomi riil dan lebih beralih dibidang investasi keuangan dengan mengambil selisih.

Endingnya mudah ditebak, kita gagal melakukan pertumbuhan ekonomi, tidak tercipta banyak lapangan pekerjaan baru, serta biaya kredit yang melangit.

Sebaiknya dibandingkan menggagas kenaikan BI rate, alangkah lebih baik membentuk insentif lokal dengan mendorong investasi dengan insentif langsung, meski harus diukur dengan baik dampak turunan terkait.

Bisa saja insentif pajak, kemudahan perijinan, akses infrastruktur untuk menarik investasi industri fisik yang bersifat langsung dibanding investor dipasar uang dan saham yang sangat cair dan mudah untuk masuk dan keluar dalam hitungan waktu yang pendek.

Karena ketika kita mengikuti logika keuntungan, maka uang akan mudah pindah dan beralih, hal ini menyebabkan ketidakstabilan dan kondisi ekonomi kita yang dibangun dari basis sedemikian menjadi rentan.

Jadi, pemanis boleh dipakai, meski tak harus diobral, serta berfokus pada kepentingan pembangunan langsung dengan memberi multi insentif yang terukur bagi stimulus pertumbuhan.

Sumber Foto: bisnis.liputan6.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar