Bagaikan gadis jelita,
potensi Indonesia sebagai negara berkembang sesungguhnya berada dalam
kriteria yang baik, masalahnya kita belum mampu mengoptimalkan
kecantikan tersebut untuk dikelola sendiri.
Problemnya kemudian
muncul dalam terminologi jaringan ekonomi dunia, bahwa Indonesia
membutuhkan dukungan capital dari pasar dunia, semua instrumen di
pasar modal dan pasar uang dipergunakan untuk menarik likuiditas.
Pada keterhubungan global
tersebut, Amerika Serikat masih menjadi acuan utama, karena itu
langkah The Fed akan perubahan suku bunga akan memberi dampak bagi
emerging market seperti Indonesia.
Manakala bunga The Fed
yang saat ini 0.25% dikerek naik, maka likuiditas dunia akan sedikit
mengering karena mengalir kembali ke negeri Paman Sam, dan hal
tersebut berbahaya khususnya bagi Indonesia sendiri sebagai tujuan
investasi selama ini.
Sebagian pengamat
mengemukakan, sarana preventif dapat dilakukan dengan menaikkan suku
bunga BI dari 7.5% p.a sehingga spread interest yang lebar dapat
tetap menjaga ketertarikan investor.
Problemnya harus dilihat
komprehensif, karena secara internal dampak bagi konsumen kredit
dalam negeri adalah beban bunga yang semakin tinggi, dan hal tersebut
bisa membuat ekonomi menjadi memanas.
Karena perbankan akan
semakin bersaing memperebutkan dana, meningkatkan biaya dana, membuat
pemilik likuiditas di dalam negeri tidak tertarik menggarap ekonomi
riil dan lebih beralih dibidang investasi keuangan dengan mengambil
selisih.
Endingnya mudah ditebak,
kita gagal melakukan pertumbuhan ekonomi, tidak tercipta banyak
lapangan pekerjaan baru, serta biaya kredit yang melangit.
Sebaiknya dibandingkan
menggagas kenaikan BI rate, alangkah lebih baik membentuk insentif
lokal dengan mendorong investasi dengan insentif langsung, meski
harus diukur dengan baik dampak turunan terkait.
Bisa saja insentif pajak,
kemudahan perijinan, akses infrastruktur untuk menarik investasi
industri fisik yang bersifat langsung dibanding investor dipasar uang
dan saham yang sangat cair dan mudah untuk masuk dan keluar dalam
hitungan waktu yang pendek.
Karena ketika kita
mengikuti logika keuntungan, maka uang akan mudah pindah dan beralih,
hal ini menyebabkan ketidakstabilan dan kondisi ekonomi kita yang
dibangun dari basis sedemikian menjadi rentan.
Jadi, pemanis boleh
dipakai, meski tak harus diobral, serta berfokus pada kepentingan
pembangunan langsung dengan memberi multi insentif yang terukur bagi
stimulus pertumbuhan.
Sumber Foto:
bisnis.liputan6.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar