Minggu, 07 September 2014

G-20, Liburan ke Bali & Kebutuhan Hidup Layak?

Pada prinsipnya, konteks kelayakan adalah soal ukuran relatif yang dapat berbeda antra satu dengan lain pihak, lalu standarisasi dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Salah satu yang kemudian selalu saja menghangat diakhir tahun adalah soal perumusan format Upah Minimum Provisi (UMP).

Selaras dengan kenaikan komponen biaya lain, maka UMP-pun direview saban tahun. Perubahan kondisi yang gradual tentu masih dapat diserap dalam logika normal, namun tuntutan yang berlebihan membuat setiap akhir tahun friksi pengusaha dan pekerja makin menguat.

Problem utamanya adalah kekuatan buruh yang berkumpul secara kolektif meningkatkan posisi tawarnya dengan mendesak tuntutan dibekali dengan berbagai aksi turunan mulai dari memboikot produksi secara nasional hingga aksi massa dengan menutup akses transportasi.

Sesungguhnya, kondisi ekonomi kita masih jauh dari kondisi stabil, terlebih bila kemudian alasan yang disampaikan adalah ketergabungan dalam G-20. Keterlibatan dalam forum dunia bertaraf internasional itu memang kerap ditengarai sebagai kumpulan kekuatan penyanga ekonomi sejagad.

Padahal sejatinya forum ini adalah sebuah bentuk perkumpulan yang bersifat tidak mengikat, ddalam kerangka membangun kerjasama ekonomi, karena persoalan ekonomi dilevel dunia sudah tidak dapat lagi ditanggung negara maju semata, dan bergeser menyertakan negara menengah dan berkembang seperti Indonesia.

Karena impak ekonomi secara langsung dari G-20 sesungguhnya tidak terlihat nyata, karena masing-masing negera harus mengurusi problem domestiknya sendiri, termasuk soal penetapan UMP tentunya. Indonesia tumbuh secara agregat ekonomi lebih ditopang karena faktor konsumsi, bukan soal produksi.

Peningkatan UMP menumbuhkan daya beli, menggairahkan gerak ekonomi yang mayoritas didapatkan melalui mekanisme import sementara industri dalam negeri masih terbengkalai karena hantaman kurs dan berbagai persoalan yang membebani ongkos produksi termasuk tuntutan kelompok buruh.

Alur berpikir yang harus dibangun adalah menguatkan kerangka produksi, memperkuat basis produksi hingga kita menjadi bangsa yang bertumbuh karena kapasitas ekonomi lokal, baru kemudian kita akan berbicara banyak tentang kesejahteraan dan masalah libur ke Bali sebagai sebuah indikator.

Dibanding sekedar masalah liburan dan prfum semata, sebenarnya masih banyak hal mendasar yang belum lepas sebagai masalah besar negeri ini, seperti pendidikan dan kesehatan yang diharapkan dapat menjadi sarana dan pendukung dalam konteks pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam kepentingan bersaing ditingkat dunia.

Saat konsumerisme menjadi bagian dari gaya hidup, maka sudah jelas bahwa kita sebagai sebuah bangsa memang tengah berkejaran dengan perilaku konsumsi yang tidak akan pernah berhenti, sebagai pertanda jebakan Middle Income Trap itu nampak membingkai dalam bentuk kenyataan.

Terlebih, tidak kunjung terlihat kemampuan bangsa ini untuk lepas dari eksploitasi sumberdaya alam sebagai penyokong ekonomi, dan buka karena kemampuan sumberdaya manusianya yang membentuk keunggulan bersaing dalam kompetisi ekonomi dikancah dunia.

sumber foto: e-tempatwisatabali.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar