Pada prinsipnya, konteks
kelayakan adalah soal ukuran relatif yang dapat berbeda antra satu
dengan lain pihak, lalu standarisasi dibuat berdasarkan kesepakatan
bersama. Salah satu yang kemudian selalu saja menghangat diakhir
tahun adalah soal perumusan format Upah Minimum Provisi (UMP).
Selaras dengan kenaikan
komponen biaya lain, maka UMP-pun direview saban tahun. Perubahan
kondisi yang gradual tentu masih dapat diserap dalam logika normal,
namun tuntutan yang berlebihan membuat setiap akhir tahun friksi
pengusaha dan pekerja makin menguat.
Problem utamanya adalah
kekuatan buruh yang berkumpul secara kolektif meningkatkan posisi
tawarnya dengan mendesak tuntutan dibekali dengan berbagai aksi
turunan mulai dari memboikot produksi secara nasional hingga aksi
massa dengan menutup akses transportasi.
Sesungguhnya, kondisi
ekonomi kita masih jauh dari kondisi stabil, terlebih bila kemudian
alasan yang disampaikan adalah ketergabungan dalam G-20. Keterlibatan
dalam forum dunia bertaraf internasional itu memang kerap ditengarai
sebagai kumpulan kekuatan penyanga ekonomi sejagad.
Padahal sejatinya forum
ini adalah sebuah bentuk perkumpulan yang bersifat tidak mengikat,
ddalam kerangka membangun kerjasama ekonomi, karena persoalan ekonomi
dilevel dunia sudah tidak dapat lagi ditanggung negara maju semata,
dan bergeser menyertakan negara menengah dan berkembang seperti
Indonesia.
Karena impak ekonomi
secara langsung dari G-20 sesungguhnya tidak terlihat nyata, karena
masing-masing negera harus mengurusi problem domestiknya sendiri,
termasuk soal penetapan UMP tentunya. Indonesia tumbuh secara agregat
ekonomi lebih ditopang karena faktor konsumsi, bukan soal produksi.
Peningkatan UMP
menumbuhkan daya beli, menggairahkan gerak ekonomi yang mayoritas
didapatkan melalui mekanisme import sementara industri dalam negeri
masih terbengkalai karena hantaman kurs dan berbagai persoalan yang
membebani ongkos produksi termasuk tuntutan kelompok buruh.
Alur berpikir yang harus
dibangun adalah menguatkan kerangka produksi, memperkuat basis
produksi hingga kita menjadi bangsa yang bertumbuh karena kapasitas
ekonomi lokal, baru kemudian kita akan berbicara banyak tentang
kesejahteraan dan masalah libur ke Bali sebagai sebuah indikator.
Dibanding sekedar masalah
liburan dan prfum semata, sebenarnya masih banyak hal mendasar yang
belum lepas sebagai masalah besar negeri ini, seperti pendidikan dan
kesehatan yang diharapkan dapat menjadi sarana dan pendukung dalam
konteks pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam
kepentingan bersaing ditingkat dunia.
Saat konsumerisme menjadi
bagian dari gaya hidup, maka sudah jelas bahwa kita sebagai sebuah
bangsa memang tengah berkejaran dengan perilaku konsumsi yang tidak
akan pernah berhenti, sebagai pertanda jebakan Middle Income Trap itu
nampak membingkai dalam bentuk kenyataan.
Terlebih, tidak kunjung terlihat kemampuan bangsa ini untuk lepas dari eksploitasi sumberdaya alam sebagai penyokong ekonomi, dan buka karena kemampuan sumberdaya manusianya yang membentuk keunggulan bersaing dalam kompetisi ekonomi dikancah dunia.
sumber foto: e-tempatwisatabali.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar