Perilaku bersidang adalah
wujud dari cerminan karakter individu, dan hal itu menjadi
pencermatan kita pada sidang perdana DPR pasca pelantikan hari ini,
namun sayangnya ekspresi yang terlihat pada layar kaca justru menuai
banyak kecaman terkait dengan proses dan tata etika bersidang yang
buruk.
Mekanisme rapat dalam
pencapaian suatu tujuan bersama adalah format yang dipergunakan untuk
mengurai begitu banyak pendapat hingga terbentuk konsensus
kesepakatan, sayangnya public harus kembali tersenyum pahit melihat
para selebritis politik dari dipanggung politik nasional kali ini,
tetapi mewarisi perilaku bak zaman purbakala.
Keberhasilan dari sebuah
persidangan adalah mendapatkan keputusan yang merepresentasi
kepentingan khalayak diatas ego golongan dan individu. Padahal mereka
yang terpilih adalah para anggota dewan yang terhormat, dari 6.607
calon yang bertarung hanya 560 anggota terpilih dan dilantik kemarin.
Tidak hanya itu,
incumbent anggota dewan adalah 43,4% atau sebanyak 243 orang,
membuktikan bahwa sisa kursi merupakan muka baru dari tokoh terpilih
perpolitikan domestic. Tetapi proporsi yang dominan tersebut, tidak
dapat menjadi sebuah jaminan bila spirit yang baru, dapat membawa
nuansa baru yang sinergis dalam kepentingan publik.
Biaya pelantikan
sekalipun dipersiapkan dengan sangat baik, dengan alokasi budget
dianggarkan Rp16 miliar mulai dari akomodasi hingga souvenir. Setelah
itu? Semuanya kembali status quo, persepsi dari imej politikus yang
sulit untuk dipercaya kembali mengemuka, setelah proses rapat
berlangsung tanpa substansi yang esensial bagi kepentingan rakyat.
Perebutan komposisi Paket
Ketua DPR hanya berada dalam posisi untuk menguatkan struktur di
Legislatif, menjadi medan baru dari rivalitas politik pasca PilPres,
karena signifikansi posisi DPR adalah menjadi imbangan dari kekuasaan
eksekutif yang mewujud pada pemerintahan dibawah Presiden.
Bila hal ini tidak segera
terselesaikan, maka satu yang dapat dipastikan, amanat pembukaan UUD
1945 atas kehendak untuk menciptakan kesejahteraan rakyat sesuai ruh
kemerdekaan adalah sebuah hal yang sulit dimanifestasikan. Bila hari
kesaktian Pancasila tidak mampu memberikan pencerahan pada ruang
sidang wakil rakyat kali ini, entah rakyat yang mana yang mereka
wakili.
Sumber foto:
hominoids.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar