Daya dukung alam dalam memberikan
perlindungan akan kebutuhan pangan berjalan linier, sementara itu pemenuhan
konsumsi manusia berlaku eksponensial.
Dengan menggunakan logika Thomas
Robert Maltus, maka bencana demografi terjadi ketika terjadi kelangkaan bahan
pangan yang menjadi kebutuhan dasar utama.
Menekan wants yang keinginan itu
menjadi tunduk hanya pada needs, akan membuat kita mampu mengendalikan konsumsi
ditingkat sesuai kebutuhan sustain bagi kehidupan.
Kebutuhan importase pangan yang
terjadi secara fenomena aktual bangsa ini terjadi karena nilai kebutuhan lebih
tinggi dari kemampuan mencukupinya.
Terdapat 2 aspek penting, pertama:
soal akses akan sumber pangan, kedua: terkait masalah distribusi pangan yang
menyeluruh.
Pada kedua point tersebut, tentu
peran pemerintah yang berkaitan dengan alokasi kewenangan serta kemampuan
melalui kebijakan harus menjamin pemberikan perlindungan bagi segenap warga
negara.
Disisi lain, peran warga negara yang
memiliki kemampuan mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar pangan tersebut,
memastikan konsumsi tepat sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan adalah sebuah
sikap utama.
Konsumsi yang direncanakan,
memastikan ketersediaan bahan pangan tercukupi dan dapat menyokong konsepsi
ketahanan pangan sehingga kita mampu berdikari dalam kemandirian pangan.
Pertambahan produksi bahan pangan
yang selaras dengan kebutuhan konsumsi, sudah barang tentu akan membutuhkan
waktu dalam pengembangan sektor pertanian, terlebih konsep Maltus mensyaratkan
kesenjangan.
Secara paralel, proporsi dalam
berhemat dan mengurangi wants konsumsi pangan hanya sekedar kebutuhan dasar
menyambung kehidupan, akan sangat membantu memberikan kepastian ketercukupan
pangan.
Jadi mulailah gerakan konsumsi
berencana, sesuai kebutuhan bukan keinginan yang mubazir dan berlebihan.
Rencanakan makanan Anda, dan makanlah apa yang sudah direncanakan sesuai
kebutuhan hidup, bukan untuk kemewahan hidup.
sumber foto: dok pribadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar