Perilaku
elit politik telah memperlihatkan sikap dalam orientasi sesungguhnya,
bahwa kekuasaan adalah tujuan akhir yang konsisten diperebutkan lebih
dari sekedar cara dalam menjabarkan kepentingan publik secara aktual.
Teriakan,
interupsi, sampai titipan berbagi komisi hingga membalikkan meja
rapat menjadi bagian dari episode palsu dalam kepentingan
memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Ketika
angkara murka menjadi bagian dari tingkah laku yang dipertontonkan,
maka internalisasi nilai tersebut kepada publik membuat titik
problematika baru layaknya bara api dalam sekam.
Negeri ini
pernah mengalami amok massa yang brutal pada periode krisis moneter
dan politik medio 97-98, dan pengalaman berbagai konflik fisik
berintonasi SARA diberbagai daerah.
Apa yang
harusnya dipelajari dengan kondisi kesejarahan nan kelam tersebut
pada masa sekarang?
Karakter
lekat dengan kebiasaan dan tingkah laku, hal tersebut menjadi bagian
secara turun temurun dalam keseharian dan menjadi dasar kepribadian
yang tampak kemuka.
Sedangkan
pemimpin adalah sebuah peran yang mengedepankan rasionalitas berpikir
dalam logika positif serta membawa misi utama guna mengarahkan suatu
kelompok pada tujuan akhir sesuai konsensus bersama.
Konflik
kerap tercipta dan bersifat kekal, karena manusia pada dasar asalinya
tidak sama, sehingga memiliki perbedaan baik dalam cara pandang
maupun gerak laku.
Lalu,
bagaimana konflik dapat dikendalikan? Pengelolaan konflik merupakan
sarana dalam memoderasi konflik untuk mencapai resolusi yang solutif
bagi semua pihak.
Problemnya,
ketika angkara murka disertai amarah yang membumbung tinggi, lalu
bagaimana peran pemimpin dalam manajemen konflik.
Leadership
role menjadi signifikan dalam mendamaikan konflik, dan dibutuhkan
banyak kebijaksanaan serta pengetahuan yang cukup guna mendapatkan
alternatif pemecahan masalah.
Mencermati
apa yang kini terjadi diwajah parlemen kita, nampak jelas bahwa peran
leadership dengan kedewasaan bersikap maupun bertindak tidaklah
tercermin.
Logika adu
otot lebih diutamakan, sedangkan pertarungan gagasan tentang konsepsi
kemakmuran serta kesejahteraan publik minim dari perhatian.
Tidak hanya
dalam satu partai politik secara internal, demikian pula dalam
hubungan relasional antar partai yang terbangun pun pola pikirnya
serupa, konkruen dan sebangun.
Pada
dinamika berkesinambungan, maka kemajuan memang distimulasi oleh
tesis dan antitesis mencapai sintesis, namun tanpa tata kelola yang
tepat konflik dapat berujung problematika tidak berkesudahan.
Pemimpin
memiliki peran penting dalam membangun kesepahaman, menyelaraskan
berbagai sudut pandang yang bertabrakan agar bisa berjalan secara
produktif.
Pertanyaannya,
dimana letak pemimpin dalam konteks kenegaraan yang membagi secara
distributif aspek kekuasaan? Pemimpin tidak dengan jelas menunjuk
suatu subjek tertentu, bisa pula terletak pada kolektif kepemimpinan.
Ketika
negara terbagi dalam Trias Politika seperti Indonesia, tentu pucuk
pimpinan diantara ketiga lembaga itu hendaknya berembug demi
kepentingan yang lebih besar, disinilah kemampuan kenegarawanan
melebihi kepentingan politik.
Karena
negara tanpa perpaduan harmonis hanya akan meninggalkan abu yang
hangus karena bara itu telah membakar habis seluruh sekam.
Saat
ketegangan memuncak mencapai antiklimaks dengan bumbu amarah, maka
relaksasi yang dapat dilakukan adalah membuang jauh ego dan mencoba
mencari jalan damai, disitulah peran dan fungsi kepemimpinan
diperlihatkan.
Sumber foto:
m.kabar24.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar