Tentu saja lawan bicara
saya bukan pak Boed yang ada difoto pada kelas sekolah, ini hasil
diskusi dengan tukang pijat langganan yang datang kerumah sesuai
panggilan alamiah tubuh.
Ya, pak Boed sudah lama
berkecimpung dalam profesi yang ditekuninya saat ini. Dari
pembicaraan ringan, saya jadi tahu pak Boed sesungguhnya seorang
perantau meski asli berlogat kental Jawa namun berkampung halaman di
Ogan Komering Ulu yang ada diseberang pulau.
Pertanian adalah basis
penghidupan dikampungnya. Kondisi lahan yang subur pun dipujinya
sebagai kondisi “Gemah Ripah Loh Jinawi” yang memiliki kisaran
arti sebagai -tentram makmur dan sangat subur tanahnya.
Namun hal itu dirasakan
berubah seiring dengan tipikal kepemimpinan nasional pasca ‘98.
Agin reformasi membuat mekanisme pertanian praktis menjadi lebih
mandiri.
Hal itu terlihat dari
hilangnya subsidi pupuk, distribusi benih, serta tidak ada lagi
bantuan mesin pertanian, plus ditambah dengan semakin tidak
berdayanya koperasi unit desa yang dibangun sebagai bagian dari
ketahanan ekonomi daerah.
Satu yang tidak lagi
dilihat pak Boed setelah Krismon (Krisis Moneter) adalah ketiadaan
penyuluh pertanian yang hadir dan memberikan edukasi pertanian bagi
komunitas petani.
Kemandirian terbentuk
dalam arti ketidakadilan pemerintah untuk memberikan dukungan bagi
para penggerak pertanian dinegara agraris, sehingga praktis
ditumpukan pada upaya swadaya kolektif petani.
Sayangnya lokal area
pertanian kian menyusut, menurut pak Boed, karena alih fungsi lahan
pertanian menjadi perkebunan korporasi. Hal ini pula yang membuat
petani turun kelas hanya menjadi penggarap.
Belum lagi, lanjut pak
Boed, korporasi pula yang menyabotase pembelian pupuk bersubsidi
karena kemampuan modalnya yang besar dan hampir tidak menyisakan
kuota bagi petani.
Meski menjadi obrolan
selingan diantara kegiatan memijat, pak Boed juga memberikan
perhatian akan hilangnya fungsi Perum Bulog sebagai stabilisator
harga komoditas pertanian.
Tidak dalam bahasa yang
rumit memberikan ulasan akan faktor supply versus demand, atau dalam
terminologi pembentukan titik equilibirium dengan rentang ceiling
Price maupun floor Price berkaitan dengan kuota produksi dan
sebagainya.
Jurang yang menganga
lebar antara harga jual pasca panen dengan tekanan harga ongkos
produksi yang semakin meningkat membuat pak Boed memulai perjalanan
kembali sebagai pekerja informal sebagai tukang pijat di Ibukota.
Meski demikian, mimpi
pak Boed tetap akan kembali ke kampung halaman untuk bertani setelah
pundi uang hasil kerja di Ibukota berhasil dikumpulkannya.
Hmm… wajah pertanian
kita memang wajib dibenahi agar kita tidak hanya menjadi lapisan
barisan konsumen.
Terlebih korporasi besar
asing telah menyatakan minat untuk membuka lahan pertanian modern
untuk memasok kebutuhan domestik, duh sungguh sangat celaka bila hal
itu terjadi, karena masih ada pak Boed yang bertekad untuk hidup
dalam mimpinya dibidang pertanian.
sumberfoto: infoketer.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar