Selasa, 19 Agustus 2014

Pertanian Mandiri menurut Pak Boed

Tentu saja lawan bicara saya bukan pak Boed yang ada difoto pada kelas sekolah, ini hasil diskusi dengan tukang pijat langganan yang datang kerumah sesuai panggilan alamiah tubuh.

Ya, pak Boed sudah lama berkecimpung dalam profesi yang ditekuninya saat ini. Dari pembicaraan ringan, saya jadi tahu pak Boed sesungguhnya seorang perantau meski asli berlogat kental Jawa namun berkampung halaman di Ogan Komering Ulu yang ada diseberang pulau.

Pertanian adalah basis penghidupan dikampungnya. Kondisi lahan yang subur pun dipujinya sebagai kondisi “Gemah Ripah Loh Jinawi” yang memiliki kisaran arti sebagai -tentram makmur dan sangat subur tanahnya.

Namun hal itu dirasakan berubah seiring dengan tipikal kepemimpinan nasional pasca ‘98. Agin reformasi membuat mekanisme pertanian praktis menjadi lebih mandiri.

Hal itu terlihat dari hilangnya subsidi pupuk, distribusi benih, serta tidak ada lagi bantuan mesin pertanian, plus ditambah dengan semakin tidak berdayanya koperasi unit desa yang dibangun sebagai bagian dari ketahanan ekonomi daerah.

Satu yang tidak lagi dilihat pak Boed setelah Krismon (Krisis Moneter) adalah ketiadaan penyuluh pertanian yang hadir dan memberikan edukasi pertanian bagi komunitas petani.

Kemandirian terbentuk dalam arti ketidakadilan pemerintah untuk memberikan dukungan bagi para penggerak pertanian dinegara agraris, sehingga praktis ditumpukan pada upaya swadaya kolektif petani.

Sayangnya lokal area pertanian kian menyusut, menurut pak Boed, karena alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan korporasi. Hal ini pula yang membuat petani turun kelas hanya menjadi penggarap.

Belum lagi, lanjut pak Boed, korporasi pula yang menyabotase pembelian pupuk bersubsidi karena kemampuan modalnya yang besar dan hampir tidak menyisakan kuota bagi petani.

Meski menjadi obrolan selingan diantara kegiatan memijat, pak Boed juga memberikan perhatian akan hilangnya fungsi Perum Bulog sebagai stabilisator harga komoditas pertanian.

Tidak dalam bahasa yang rumit memberikan ulasan akan faktor supply versus demand, atau dalam terminologi pembentukan titik equilibirium dengan rentang ceiling Price maupun floor Price berkaitan dengan kuota produksi dan sebagainya.

Jurang yang menganga lebar antara harga jual pasca panen dengan tekanan harga ongkos produksi yang semakin meningkat membuat pak Boed memulai perjalanan kembali sebagai pekerja informal sebagai tukang pijat di Ibukota.

Meski demikian, mimpi pak Boed tetap akan kembali ke kampung halaman untuk bertani setelah pundi uang hasil kerja di Ibukota berhasil dikumpulkannya.

Hmm… wajah pertanian kita memang wajib dibenahi agar kita tidak hanya menjadi lapisan barisan konsumen.

Terlebih korporasi besar asing telah menyatakan minat untuk membuka lahan pertanian modern untuk memasok kebutuhan domestik, duh sungguh sangat celaka bila hal itu terjadi, karena masih ada pak Boed yang bertekad untuk hidup dalam mimpinya dibidang pertanian.

sumberfoto: infoketer.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar